PRESEPSI BODY SHAME PADA SISWI SMA NEGERI SE-KOTA CIMAHI

TUGAS MEREVIEW JURNAL 
MATA KULIAH DASAR-DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING 
Dosen Pengampu: Alfiandi Warih Handoyo, M.Pd. 

 Nama: Syaima Fikya Nabilah 
 Jurusan: Bimbingan dan Konseling 
 Kelas: B 
 NIM: 2285210053 

Judul Jurnal: Presepsi Body Shame pada Siswi SMA Negeri Se-Kota Cimahi 
Volume: Vol. 5 No .1 (2020) 
Tahun: 2020 
Penulis: Rima Irmayanti, Tita Rosita, dan Heris Hendriana 

                          ABSTRAKSI
    Remaja adalah tahap dimana individu akan mulai mengenal orang-orang di sekitarnya yang lebih beragam. Sosialisasi yang baik antar remaja adalah kunci utama dari terpeliharanya hubungan pertemanan. Sayangnya, tidak semua remaja tau bagaimana cara bersosialisasi atau berkomunikasi yang baik dan sopan kepada teman sebayanya. Tidak jarang hal yang serius justru malah dijadikan bahan candaan oleh para remaja. Misalnya, candaan yang mengarah pada berat dan bentuk tubuh seseorang atau kita kenal sebagai body shame. Fenomena ini, menjadi latar belakang peneliti untuk melakukan penelitian tentang presepsi remaja terhadap body shame. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian survey, dengan cara menyebarkan angket yang diberikan kepada siswi kelas X SMA Negeri se-Kota Cimahi. Sedankan pengambilan sampel diglakukan menggunakan teknik slovin. Hasil yang didapatkan peneliti menunjukan bahwa presepsi body shame siswi kelas X SMA Negeri se-Kota Cimahi berada dalam kategori tinggi. Ini artinya, presepsi para siswi kelas X SMA Negeri se-Kota Cimahi terhadap body shame adalah negatif. 
Kata Kunci: Presepsi, Body Shame, Siswi SMA.


                       PENDAHULUAN
    Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang pasti dialami oleh semua individu. Pada masa ini akan ada banyak perubahan yang terjadi pada diri remaja, meliputi aspek fisik, kognitif, dan emosi yang dimilikinya. Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut, remaja harus beradaptasi kembali dengan lingkungan sekitarnya. Proses remaja dalam menyesuaikan diri ini tidak selamanya berjalan mulus. Ada saja hal-hal yang dapat menghambatnya. Sebagai contoh, perubahan fisik yang dialami remaja kadang tidak sesuai dengan ekspetasi mereka. Hal ini dapat menyebabkan remaja memiliki citra yang negatif terhadap tubuhnya. Menurut Stuart (Stuart, dalam Lintang, 2015) citra tubuh ialah kumpulan sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk presepsi serta perasaan masa lalu dan sekarang tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi.        Citra tubuh nyatanya berkaitan dengan body shame. (Noll & Frederickson) Body shame ialah munculnya rasa malu pada diri seseorang terhadap salah satu bagian tubuh, ketika memperoleh penilaian dari orang lain maupun dirinya sendiri ternyata tidak sesuai dengan diri ideal yang diharapkan. Orang yang mengalami body shame akan memandang jelek dirinya, terutama tubuhnya, bahkan malu dan membenci dirinya sendiri. Perilaku yang dapat meneyebakan body shame dapat berupa perbuatan atau perkataan. Dalam berkomunikasi sesama teman sebaya, remaja sering membuat banyak candaan. Namun candaan tersebut tak selamanya berisi tentang hal-hal yang patut dijadikan lelucon. Salah satunya ialah candaan yang mengarah pada body shame ini. Bisa jadi candaan tersebut untuk sebagian orang terdengar lucu, namun bagi sebagian lainnya dapat membuat mereka merasa tersinggung, sakit hati, bahkan parahnya lagi bisa membuat orang merasa hina sampai ingin bunuh diri. Karena permasalahan inilah peneliti melakukan sebuah penelitian agar mengungkap pandangan atau presepsi remaja terhadap makna body shame itu sendiri. Remaja yang menjadi objek penelitian adalah remaja 16-18 tahun, yang berada pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). 


                  METODE PENELITIAN 
    Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah metode deskriptif dengan pendekatan jenis kuantitatif. Populasi penelitian kali ini ialah siswi-siswi SMA Negeri se-Kota Cimahi yang berjumlah 1385 siswi. Sedangkan sampel penelitian 308 siswi yang diambil menggunakan teknik slovin. Hal ini bertujuan agar sampel yang penelitian yang diambil dapat benar-benar mewakili populasi penelitian. 


              HASIL DAN PEMBAHASAN 
Hasil penelitian menunjukan: 
1. Diperoleh data bahwa dari 308 siswi, 108 diantaranya memiliki skor yang tinggi terhadap presepsi body shame. Ini artinya, sebagiam besar siswi SMA Negeri se-Kota Cimahi memandang negatif bentuk tubuh mereka sendiri maupun orang lain. Jika dibiarkan, hal ini dapat menyebabkan perilaku yang mengarah pada perundungan / bullying. 
2. Lalu dalam penelitian ini, peneliti menyediakan tiga aspek yang diukur. Yaitu mengkritik penampilan sendiri melalui penilaian/perbandingan dengan orang lain, mengkritik penampilan orang lain di depan orangnya, dan mengkeritik orang lain tanpa sepengetahuan orangya. Dan di antara tiga aspek tersebut, mengkritik orang lain tanpa sepengetahuan orangnya menjadi aspek yang memiliki nilai tertinggi. Ini artinya, sebagian besar siswi SMA Negeri se-Kota Cimahi memandang negatif penampilan orang lain tanpa diketahui orangnya. Sehingga, kritikan terhadap penampilan orang lain dilakukan dibelakang orang yang dikritik tersebut. 

    Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran tubuh, diantaranya yaitu: 1) Jenis kelamin. Remaja perempuan cenderung lebih sering memiliki perasaan kurang puas terhadap tubuhnya disbanding dengan remaja laki-laki. 2) Media massa. Media sering menggambarkan bahwa standar ideal seseorang perempuan ialah memiliki tubuh yang kurus, sedangkan idealnya laki-laki digambarkan dengan tubuh berotot. 3) Hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal seseorang terhadap orang lain juga dapat mempengaruhi image tubuh (Andea, 2010). 
     Menurut Vargas (2015), salah satu ciri dari body shame ialah adanya kritikan terhadap penampilan orang lain tanpa sepengetahuan orangnya (misalnya: “Tenang, kamu tidak segemuk si A kok, jadi tidak perlu khawatir!”. Lalu tingginya presepsi body shame pada siswa SMA Negeri se-Kota Cimahi menjadi pengingat bahwa perlu adanya penanganan lanjut baik dari kesadaran siswa itu sendiri, dan bantuan dari pihak eksternal seperti orang tua, guru, ataupun teman sepermainan siswi tersebut supaya ada yang membantu mengingatkan. Sehingga siswa dapat lebih positif dalam melihat penampilan sendiri dan orang lain di sekitarnya. 


                         KESIMPULAN 
    Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa jika dilihat dari data yang menunjukan pemerolehan kategori tinggi, artinya presepsi siswi SMA Negeri se-Kota Cimahi secara umum terhadap body shame cenderung negatif. Mereka cenderung sering memandang buruk bentuk tubuh mereka sendiri maupun orang lain. Kemudian, dalam penelitian ini terdapat tiga aspek yang diujikan berupa: 1) mengkritik penampilan orang lain tanpa sepengetahuan orangnya. 2) Mengkritik penampilan sendiri melalui penilaian/perbandingan dengan orang lain. 3) Mengkritik penampilan orang lain di depan orangnya. Dan aspek yang memiliki kategori nilai tertinggi adalah aspek nomor satu, yaitu mengkritik penampilan orang lain tanpa sepengetahuan orangnya. 


                     DAFTAR PUSTAKA
 Irmayanti, Rima, Tita Rosita, Heris Hendriana. 2020. Presepsi Body Shame pada Siswi SMA Se-Kota Cimahi. Jurnal Penelitian Bimbingan dan Konseling, 5(1).

Komentar